D
D
D
D
s
s
s

Apa penyebab terjadinya Kandung Kemih yang Hiperaktif  atau Overactive Bladder (OAB) ?

Tepatnya penyebab seseorang mengalami OAB bisanya tidak diketahui. Ini bukanlah bagian yang norma dari proses penuaan walaupun kelihatannya banyak dialami oleh usia lanjut. Hal ini juga tidak dikarenakan terlalu banyak minum atau juga efek setelah melahirkan. Penelitian membuktikan bahwa wanita yang yang melahirkan dan yang belum pernah melahirkan memiliki resiko yang sama untuk mengalami OAB

Beberapa faktor menjadi kontribusi dalam menyebabkan OAB dan gejalanya:

  • Kerusakan sistem syaraf pusat ( seperti kerusakan oleh karena stroke, penyakit parkinson’s, multiple sclerosis atau kerusakan syaraf tulang belakang)
  • Hambatan dan kelemahan uretra
  • Kelemahan otot yang menyangga kandung kemih pada tempatnya
  • Kekurangan estrogen (pada wanita)
  • Benign prostat hyperplasia (pembesaran prostat)
  • Infeksi saluran kemih
  • Kanker kandung kemih atau batu kandung kemih
  • Komplikasi histerektomi atau operasi prostat
Overactive bladder dapat terjadi karena efek samping dari obat yang Anda minum untuk kondisi yang lain, seperti diuretic untuk tekanan darah tinggi.
Serta banyak faktor lainnya khususnya minuman dengan cafein tinggi yang dapat memperparah gejala OAB.


Beberapa kondisi lain, yang disebut faktor resiko yang berhubungan dengan OAB ( dimana tidak selalu menjadi penyebabnya). Jika Anda mempunyai satu atau beberapa faktor resiko maka Anda kemungkinan akan menderita OAB dibandingkan orang lain: depresi, kecemasan, deficit disorder, attention, fibromyalgia, interstitial cystitis, obesitas, kekambuhan infeksi saluran kemih dan mengompol pada masa kecil.

Overactive bladder adalah kondisi yang umum: kira-kira diderita  34 juta orang dewasa di USA. Dan banyak dokter berpendapat, bahwa OAB tidak hanya ditemukan pada wanita, OAB berefek hampir sama banyak antara pria dan wanita. Faktanya, ada sekitar 16% dari seluruh populasi pria dan 17% dari seluruh populasi wanita menderita OAB. Sedangkan pada penelitian di 11 negara di Asia (termasuk di Indonesia) prevalensi OAB adalah 51,4 % pada wanita1 dan 29,9 % pada pria2

 


Tidak setiap orang yang menderita OAB mengalami ’ngompol’. Hanya sekitar satu sepertiga dari seluruh pasien yang menderita OAB yang mengalami ’ngompol’ dan gejala ini bervariasi antara pria dan wanita. Pada pria dengan OAB biasanya mengalami ’dry’ (hanya 16% yang mengompol) sementara pada wanita banyak yang mengalami ’wet’ (55% mengompol)

Baik pria maupun wanita, dengan meningkatnya umur makin meningkat pula resiko terjadinya OAB. Pada wanita angka makin meningkat setelah berumur 44 tahun, sedangkan pada pria, setelah berumur 65 tahun. Pada seluruh populasi, setelah berumur 75 tahun, sekitar 30-40% menderita OAB.


   
© Copyright 2008 - design and Hosting@faberhost.com